Tuan,
Ada yang tertinggal dalam diriku
Tuan,
Ada yang menebar pilu dalam jarak kelambu
Tuan,
Jangan pernah memberi sebuah jarak
Sebab kau tak tahu apa dan bagaimanakah itu Rencana indah Yang Maha Tahu
Rencana tak terbayangkan Murabbiku
Tuan,
Mungkin saat ini kita hanya saling menunduk
Tak terbesit sepatah katapun untuk terbentuk
Tak jua terlihat berdekatan duduk
Hanyalah berdzikir mesra sebagai makhluk
Hanyalah berdzikir mesra sebagai makhluk
Tuan,
Ikhlaskan dahulu setiap kisah dimasa lalu
Tegarkan dahulu setiap rasa didalam qolbu
Bahagiakan dahulu setiap hati yang sendu
Tuan,
Setiap yang patah akan kembali terarah
Setiap yang jatuh akan kembali mengasah
Setiap yang letih akan kembali berbamah
Setiap yang lemah akan kembali mencegah
Tuan,
Sudahkah kamu berdamai dengan masalalumu?
Tuan,
Sudahkah kamu bersiap untuk sedikit melupakan kepedihan kemarin?
Kala itu, hujan bergeming nan syahdu
Seakan terbesit menikam lara sendu
Memunculkan cerita unik si pecandu
Saling berjauhan namun merintih rindu
Menjajarkan separuh hati yang mulai teradu
Bukan tak ingin saling bertemu
Namun hati berkata:
" Jangan! Itu bukan hakmu"
Tersentak raga ini, bila yang lalu itu "terkenang"
Jarak saat ini hanyalah perisai rindu & do'a, Tuan.
Ini bukanlah tentang; berjuang dan memperjuangkan
Bukan tentang; ingin tahu dan mengetahui
Bukan juga tentang; ingin memiliki dan dimiliki
Namun tentang yang menghebat mendekati Rabbnya
Tentang mencintai dahulu pemilikNya dibanding ciptaanNya
Berjuanglah Tuan, mendekati Rabbku.
Aku pun sama,
Mendo'akan yang terbaik untukmu,
Untuk yang sama-sama sedang berjuang,
Untuk yang sedang melesat di esok hari,
Untuk yang sedang berproses menjadi baik,
Salam syahdu, dalam baitan do'a.
Entah siapapun kamu, dan dimanapun kamu
Doaku selalu menyertaimu.
Bogor, 31 Mei 2020.
Salam sepenantian,
Alunansa.
Masyallah syahdunya^^
BalasHapus